Membina sebuah organisasi bukan hal yang mudah, jika mau jadi pembina yang pasif sih mudah, tiap bulan dapat honor pembina tapi jarang bahkan tidak pernah mengurusi organisasi yang dibina. Tapi buat saya, bukan masalah honornya, lagian nilai honor bulanannya tidak seberapa, malahan sering kali uang pribadi yang saya pakai untuk urusan organisasi ini. Karena buat saya, membina sebuah organisasi, apalagi organisasi yang isinya anak-anak SMA adalah sebuah perjalanan yang unik.
Namanya saja organisasi, pastilah dibumbuhi dengan konflik, masalah, dan sejenisnya. Apalagi yang menjadi ketua maupun pengurus dan anggotanya masih anak-anak umur 18 tahun ke bawah, haha. Bahkan cerita cinta dalam organisai pun sudah beberapa kali terjadi, dan yang parahnya kalo cinta mereka kandas, wah bisa berdampak buat organisasi. Tapi inilah tugas seorang pembina, menyeimbangkan organisasi
Ketua=Pemimpin
Berbicara masalah ketua tidak lepas dari kepemimpinan. Hanya saja, masing-masing orang punya pengertian berbeda tentang kepemimpinan. Tapi buat saya, pemimpin itu adalah orang yang bisa menjadi teladan dan ditiru oleh orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin bukanlah bos yang hanya tahu memerintah sementara dia sendiri tidak bisa melakukan apa yang diperintahkannya dan seorang pemimpin tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan jabatannya untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Read more…